Filosofi ekonomi islam ( Teori mengenai Uang dalam ekonomi islam )

SEBELUM membahas tentang inti filsafat ekonomi Islam ada baiknya kita mempertanyakan beberapa pertanyaan mendasar dalam ilmu ekonomi Islam. Jika saat ini berkembang industri perekonomian syariah seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Koperasi Syariah, Hotel Syariah, swalayan syariah dan lain-lain. Adakah teori dalam ekonomi Islam? Sehingga kemunculan industri-industri syariah tadi yang disebutkan diawal tidak sekedar trend yang sedang berkembang saat ini.
Para akademisi masih bersilang pendapat tentang adanya teori ekonomi Islam. Apakah ekonomi Islam itu sebuah teori. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin ilmu. Ada yang menilai teori ekonomi Islam tidak ada, mereka yang mempunyai pandangan seperti ini menganggap ekonomi Islam hanya ekonomi moral. Sedangkan sebagaian pengamat menilai teori ekonomi Islam itu ada. Teori ekonomi Islam bersumber dari al-Qur’an dan hadits sebagai pijakannya. Perdebatan tersebut akan kita jawab dengan mengaitkannya dengan filsafat ekonomi Islam.
Apapun hasil tentang perdebatan tentang adakah teori dalam ekonomi Islam, ada baiknya kita mengkaji filsafat. Karena teori lahir setelah ada proses pemikiran yang panjang (filsafat) lalu diuji (verifikasi) sehingga timbulah sebuah teori. Proses filsafat mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan. Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (kebenaran) dan memperoleh hikmat (kebijaksanaan).
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut. Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan (realitas).
Namun banyak orang yang lupa bahwa filsafat itu bersumber dari Agama. pemikiran tentang ekonomi Islam lahir dari respons para pemikir muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran ekonomi Islam tersebut diilhami dan dipandu oleh ajaran Al-Quran dan Sunnah dilanjutkan dengan ijtihad (pemikiran) dan pengalaman empiris mereka.

Pemikiran adalah sebuah proses kemanusiaan, namun ajaran Al-quran dan sunnah bukanlah pemikiran manusia. Yang menjadi objek kajian dalam pemikiran ekonomi Islam bukanlah ajaran Al-quran dan sunnah tentang ekonomi tetapi pemikiran para ilmuwan Islam tentang ekonomi dalam sejarah atau bagaimana mereka memahami ajaran Al-Quran dan Sunnah tentang ekonomi. Obyek pemikiran ekonomi Islam juga mencakup bagaimana sejarah ekonomi Islam yang terjadi dalam praktek historis.Ditulisan ini saya ingin membedah keterkaitan khusus Uang dalam ekonomi islam dengan kehidupan sehari-hari.

Persamaan fungsi uang dalam sistem ekonomi Syariah dan konvensional adalah uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dan satuan nilai (unit of account), sedangkan perbedaannya ekonomi konvensional menambah satu fungsi lagi sebagai penyimpan nilai (store of value) yang kemudian berkembang menjadi “motif money demand for speculation” yang merubah fungsi uang sebagai salah satu komoditi perdagangan. Jauh sebelumnya, Imam al-Ghazali telah memperingatkan bahwa “Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang.”

Dengan demikian, dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung, melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang yang lain. Dampak berubahnya fungsi uang dari sebagai alat tukar dan satuan nilai mejadi komoditi dapat kita rasakan sekarang, yang dikenal dengan teori “Bubble Gum Economic”.

Namun sebenarnya, dampak tersebut sudah diingatkan oleh Ibnu Tamiyah yang lahir di zaman pemerintahan Bani Mamluk tahun 1263. Ibnu Tamiyah dalam kitabnya “Majmu’ Fatwa Syaikhul Islam” menyampaikan lima butir peringatan penting mengenai uang sebagai komoditi, yakni :
1. Perdagangan uang akan memicu inflasi;
2. Hilangnya kepercayaan orang terhadap stabilitas nilai mata uang akan mengurungkan niat orang untuk melakukan kontrak jangka panjang, dan menzalimi golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai/ karyawan;
3. Perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang;
4. Perdagangan internasional akan menurun;
5. Logam berharga (emas & perak) yang sebelumnya menjadi nilai intrinsic mata uang akan mengalir keluar negeri.

Perdagangan uang adalah salah satu bentuk riba yang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Untuk itu, marilah kita kembali kepada fungsi uang yang sebenarnya yang telah dijalankan dalam konsep Islam, yakni sebagai alat pertukaran dan satuan nilai, bukan sebagai salah satu komoditi, dan menyadari bahwa sesungguhnya uang itu hanyalah sebagai perantara untuk menjadikan suatu barang kepada barang yang lain.

Dengan demikian, maka dalam praktek sebuah Bank Syariah yang benar, Bank bukan menjual-belikan uang tetapi adalah menjual-belikan barang dan atau berbagi hasil dalam sebuah kemitraan usaha guna menghindari perubahan fungsi uang dari alat pertukaran dan satuan nilai menjadi komoditi.

Dalam pandangan Islam, uang adalah flow concept , dia harus terus berputar dalam perekonomian. Karena diyakini uang idle hanya akan memperkecil kesempatan masyarakat menikmati kemakmuran ekonomi.

Sekalipun circulating uang dalam ekonomi Islam diharapkan berputar secara dinamis, tetap Islam memandang uang hanyalah sebagai alat tukar bukan komoditas atau barang dagangan. Oleh karena itu motif permintaan uang dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi (money demand for transaction) bukan untuk spekulasi apalagi trading.

Kenapa demikian?

  1. Uang pada hakekatnya milik Allah SWT yang diamanahkan kepada manusia untuk dipergunakan sebesar-besarnya dengan cara yang berkeadilan. Tidak diperbolehkan memperdagangkan uang dalam Islam tanpa melakukan musyarakah atau mudarabah. Yaitu, uang diputar dengan cara melakukan usaha-usaha halal.
  2. Uang boleh dipinjamkan atau dalam terminologi Islam adalah di Qardh tanpa imbalan/ riba. Secara mikro Qardh tidak memberi manfaat langsung bagi yang meminjamkannya karena tanpa imbalan, tetapi secara makro Qardh memberikan dampak signifikan pada ekonomi secara keseluruhan. Karena Qardh maka velocity of money bertambah cepat.
  3. Islam tidak mengenal konsep time value of money yang ada adalah economic value of time, yaitu yang bernilai adalah waktu itu sendiri. Ini bisa menjelaskan kenapa Islam membolehkan deferred payment pada barang dagangan, yaitu harga barang kredit lebih tinggi dari pembelian tunai. Bukan semata-mata nilai uang yang ditanamkan dan waktu yang berharga tetapi lebih kepada waktu yang dialokasikan untuk menagih pembayaran menimbulkan biaya tersendiri, seperti biaya transportasi penagihan dll.

Jika demikian cara Islam memandang uang, pertanyaannya adalah halalkah jual beli mata uang?

Dalam ekonomi kekinian, Islam tetap kontekstual dan up to date. Al-Quran diturunkan dengan isi yang komplet, seharusnya tidak perlu muncul lagi kebingungan di tataran umat dalam menyikapi perdagangan mata uang atau forex trading. Karena dalam muamalah menganut prinsip:

“Selagi tidak ada dalil yang mengharamkan maka semua muamalah hukumnya boleh”

Apa yang diharamkan dalam muamalah Islam? Yaitu semua muamalah yang berunsur riba, maisir dan gharar. Jika forex trading, basisnya:

  1. Dilakukan spot (naqdan) atau tunai yang berarti masing – masing pihak menyerahkan mata uang pada saat bersamaan maka transaksinya halal
  2. Motif pertukaran adalah untuk mendukung transaksi komersial, yaitu transaksi atas jasa perdagangan antar negara dan bukan dalam rangka spekulasi maka transaksinya halal
  3. Tidak muncul jual beli bersyarat, misalnya A setuju membeli barang dari B hari ini, dengan syarat B harus membelinya lagi di hari kemudian. Jika transaksinya bebas syarat maka transaksi ini halal
  4. Tidak boleh jual beli terhadap barang yang belum dikuasai atau bai alfudhuli, atau jual beli tanpa hak kepemilikan.

Poin di atas adalah menentukan halal tidaknya transaksi forex yang dilakukan. Lalu, transaksi forex yang haram , yang bagaimana bentuknya?

  1. Perdagangan tanpa penyerahan (future non deliverytrading) atau biasanya dikenal sebagai margin trading, transaksinya haram
  2. Jual beli valas bukan transaksi komersial (arbitrage), baik spot maupun forward , transaksinya haram
  3. Melakukan penjualan melebihi jumlah yang dimiliki atau dibeli (oversold), transaksinya haram
  4. Melakukan transaksi swap.

Dalilnya pendukungnya apa:

{HR. Muslim dalam kita al-Masaqah} :

“Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, bur dengan bur, sya’ir dengan sya’ir , kurma dengan kurma, dan garam dengan garam sama dan sejenis haruslah dari tangan ke tangan (tunai). Maka apabila berbeda jenisnya, juallah sekehendak kalian dengan syarat kontan”

Menurut riwayat Ibnu Abbas, r.a: Rasulullah saw telah melarang seseorang yang akan menjual gandum sebelum memilikinya. Karena ini sama artinya dengan menjual uang untuk memperoleh uang karena tidak ada gandum yang akan dibayar pada waktu itu.

This entry was posted in Uang.

One comment on “Filosofi ekonomi islam ( Teori mengenai Uang dalam ekonomi islam )

  1. Welldone mengatakan:

    What is the advantages and disadvantages of this transformation theory in monetary policy ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s