Mahasiswa dan Perpolitikan Kampus

Mahasiswa acapkali dianalogikan sebagai agent of change, yaitu kumpulan pemuda pencetus perubahan yang seringkali bertindak oposisi terhadap rezim yang berkuasa. Pemilik paradigma idealis yang berpikir demi pengabdian dalam masyarakat, itulah mahasiswa. Mahasiswa juga dianggap sebagai pelopor runtuhnya kekuasaan perenggut kebebasan. Sehingga banyak kalangan yang menganggap bahwa mahasiswa merupakan ancaman terhadap suatu golongan. Maka dibutuhkan pemikiran cerdas dan pengawasan dalam melakukan suatu tindakan. Mahasiswa harus tetap berpikir idealis, tanpa dipengaruhi kepentingan politik nasional tertentu.

Kampus sebagai salah satu center of intellectuality memberikan ruang bagi berkembangnya berbagai ranah pemikiran, mulai dari yang kekiri–kirian sampai kiri abis, atau yang kekanan-kananan sampai kanan abis, isu–isu nasional hingga internasional sampai saat ini selalu saja menjadi garapan yang menarik di kampus–kampus seantero dunia ini.

Mahasiswa selalu memainkan peran atau menjadi pemain sentral di negara manapun, yaitu sebagaithe universal opposition anti terhadap pemerintahan rezim apapun yang berkuasa di negara tersebut. Mewaspadi ancaman yang akan ditimbulkan oleh masyarakat intelektual kota ini, para pemimpin negara kerap kali akan melakukan gerakan–gerakan restruktuisasi politiknya hingga jauh menjangkau kedalam kampus.

Namun melihat fakta dilapangan sehari-hari sekarang manakala keculasan berpolitik menggerogoti idealisme kampus. Kampus dikenal sebagai tempat yang memberikan pengajaran dan intelektualitas. Tetapi, kenyataannya di kampus sendiri terjadi banyak “tragedi intelektual”. Pada zaman dahulu, orang berpolitik bertujuan untuk kesejahteraan umat. Tetapi, sekarang kebanyakan orang yang berpolitik hanya bertujuan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Bukan kesejahteraan masyarakat yang diusahakan.Banyak politikus yang lahir dari rahim kampus sehingga kampus menjadi tempat yang representatif untuk menciptakan para penerus politikus di negeri ini. Tak ayal jika banyak, yang mengatakan bahwa kampus merupakan sarang politikus.

Itu mengapa salah satu tokoh pergerakan angkatan ‘65, Soe Hok Gie (1942-1969), tak pernah setuju adanya politisasi organisasi eksternal kampus yang masuk ke dalam organisasi internal kampus, apalagi saat itu organisasi eksternal kampus diketahui berafiliasi secara langsung kepada salah satu partai politik.

Gie yang menjadi mahasiswa pencintaalam dari UI saat itu, bersama  rekan-rekannya, adalah salah satu tokoh yang menolak berkooptasi dengan kekuatan politik di luar kampus. Ia lebih memilih berdiri dengan idealismenya, dari pada harus terseret ke arus politik praktis. Gie lebih memilih bersifat netral dan bangga membawa nama almamater kampusnya tanpa embel-embel organisasi eksternal.

Ia tak mau terperangkap pada hasrat kekuasaan sebagai tujuan akhir. Itu mengapa dirinya menentang politisasi organisasi pergerakan. Dengan demikian, ideologi dan idealisme yang diusung oleh organisasi internal mahasiswa tetap bisa berkumandang membela kepentingan rakyat tanpa harus terbelenggu kuasa secara praktis.

Lantas, apa yang sebaiknya bisa kita maknai dari penafsiran semacam ini? Belajar, ya proses pembelajaran.  Oleh karenanya, barangkali bisa kita mengerti bagaimana penolakan banyak mahasiswa terhadap monopoli kebenaran. Sebab, bukankah kita sedang sama-sama belajar (menemukan kebenaran).Jadi jangan ada yang mencap diri dan pemahamannya sebagai yang paling benar . Apalagi keukeuh dengan menggunakan cara-cara layaknya orang tidak berotak (dan akibatnya antara lain, tidak berhati), demi ‚sekedar’ menegaskan eksistensi dan kedigjayaan pahamnya, atau dalam terma yang lebih ‚brutal’, menyingkirkan lawan ismenya (dengan pengerahan kekuasaan ataupun metode culas lainnya).
Biarkanlah proses ini berjalan fair. Toh, kalau kita masih menganut dan percaya bahwa perjuangan hidup ini adalah kerja mewujudkan Good Life or Good for (all of ) mankind, sudah sebaiknya kita merelakan setiap orang memiliki posisi sama, hak dan kewajiban yang sama. Kita sama-sama memiliki hak untuk mengekspresikan pendapat, mengemukakan pemahaman, bahkan berargumen dengan adil. Kita sama punya hak untuk mendapat nuansa dan situasi yang terbuka dan jujur dalam setiap pergulatan pemikiran dan dialog. Pun Kita sama-sama memiliki kewajiban untuk menjaga objektifitas. Yang jadi soal pertama-tama  adalah bagaimana menyajikan keadaan yang adil bagi setiap orang untuk menjalankan kewajiban dan mendapat haknya, sebelum berpikir dan menentukan siapa yang jadi pemenang. Karena toh pada akhirnya, tidak ada satu pihak yang menang. Idealnya, yang keluar jadi juara adalah pihak kemanusiaan; yang berhasil menjadi manusia seutuhnya; yang berani jujur.

Namun bila kita amati, tidak semua penghuni kampus berinisiatif mendalangi lakon politik dengan memasuki salah satu partai, dan bermain adegan di sana. Terdapat mahasiswa praktisi intelektual akademisi yang berpola pikir anti politik dan anti aliansi. Padahal suatu kegiatan politik atau aliansi pun diperlukan dalam mengembangkan kecerdasan pemikiran serta menjaring sebanyaknya ilmu yang tidak didapatkan pada forum perkuliahan. Sikap apatis mereka cenderung mengaliensi diri dari hiruk pikuk hegemoni, memandang sambil mengernyitkan dahi terhadap apa itu tindakan oposisi.
Bila kita maknai lebih dalam, kontribusi kita terhadap kancah perpolitikan sebenarnya diperlukan dalam menempatkan diri terhadap kehidupan sesungguhnya. Seorang individu tidak hanya dapat dikatakan sukses apabila dia hanya mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, namun juga kepiawaian olah diri dalam membawakan kepribadian yang dapat membaur pada lingkungan sekitar juga dinilai penting.
Seluk beluk perpolitikan dalam ranah kampus memang belum dipahami secara merata oleh mayoritas mahasiswa, padahal kampus merupakan pusat intelektualitas, tempat pengembangan ranah pemikiran dan tindakan. Tidak hanya berharap IPK tinggi, namun dapat pula berkontribusi dan ikut andil terhadap pemecahan masalah di negeri ini.
Lalu, apa pula yang menyebabkan mahasiswa cenderung apatis terhadap kegiatan baik perpolitikan maupun organisasi? Terdapat dua asumsi yang dinilai menjadi tembok besar penghalang mahasiswa untuk aktif di ranah kampus. Pertama, takut akan suatu hal yang baru. Lingkungan universitas kadang membuat tercengang bagi mata yang baru melihatnya. Bila dahulu hanya berada dalam lingkup sekolah, kini dibuat heran dan ternganga dengan banyaknya organisasi hingga adanya sistem perpolitikan yang merupakan duplikat politik nasional. Di sini selayaknya kita sebagai mahasiswa selayaknya memiliki keingintahuan tinggi terhadap suatu organisasi kampus, tidak apatis dan harus berani mencoba.
Kedua, paradigma IPK besar tanda kesuksesan. Sebagian mahasiswa cenderung berlomba demi meraih prestasi di atas bangku perkuliahan dengan harapan dapat memetik kesuksesan. Mereka berasumsi akan mudah menduduki jabatan pada pekerjaan apabila mengantongi IPK tinggi. Namun alangkah baiknya bila di samping itu, terdapat pula kontribusi dan keaktifan di sela aktifitas perkuliahan. Tidak sedikit para aktifis kampus yang dengan mudah mengenyam kesuksesan, dan banyak pula para pemilik IPK tinggi yang terpuruk akibat menganggur. Percayalah.—

2 comments on “Mahasiswa dan Perpolitikan Kampus

  1. Irfan Handi mengatakan:

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H.

    “MINAL AIDIN WALFAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s